| |

Kendali Gelombang Otak, mampu hilangkan stress
25 Februari 2007
SUARA KARYA ONLINE
Minggu, 7 Mei 2006
Pernahkah Anda mengalami "bencana" yang datang beruntun dalam satu hari. Sebagai contoh, ketika Anda harus memberikan presentasi penting bagi kemajuan karier, tiba-tiba datang telepon dari rumah yang mengabarkan bahwa anak Anda yang masih kecil dilarikan ke rumah sakit karena mendadak badannya panas tinggi.
Lalu ketika berusaha menenangkan diri dengan meneguk secangkir kopi, tanpa sengaja tangan tersenggol pinggiran meja sehingga sebagian kopi tumpah ke baju.
Bisa juga saat itu Anda sedang berkonsentrasi penuh karena sedang menghadapi deadline pekerjaan. Tiba-tiba datang teman atau kerabat yang butuh pertolongan segera, atau ada berita menyedihkan yang datang dari orang yang paling kita sayangi. Tapi mungkin juga, kita memang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang "berbakat" mengubah suasana kerja atau suasana rumah menjadi tidak menyenangkan.
Di saat muncul banyak masalah, baik di kantor maupun di rumah, kita cenderung bereaksi dengan panik dan memunculkan emosi negatif. Padahal kepanikan justru membuat kita semakin sulit berkonsentrasi. Jika konsentrasi buyar, kita menjadi semakin cemas.
Apa yang bisa dilakukan dalam kondisi demikian? Sebenarnya hal-hal semacam itu akan lebih mudah diatasi kalau kita memahami cara bekerjanya otak. Kita perlu memiliki ketrampilan mengendalikan gelombang otak yang bisa memudahkan kita menenangkan diri di saat panik.
Dengan memahami posisi gelombang otak, kita bisa mengatur mood sehingga selalu merasa bahagia, juga sukses dengan setiap hal yang kita lakukan.
Untuk mencapai kebahagiaan lewat kendali gelombang otak, kita bisa belajar dari anak-anak. Pernahkah Anda memperhatikan anak-anak ketika sedang bermain dengan teman-temannya? Lihatlah betapa mudahnya mereka tertawa bahagia. Meskipun mungkin baru saja saling mencakar dan sama-sama menangis, tapi beberapa menit kemudian mereka seolah sudah melupakan tangisan dan sudah kembali bermain bersama dengan kompaknya.
Menurut Erbe Sentanu dari Katahani Institute, hal itu karena anak-anak masih mudah menyetel gelombang otaknya memasuki frekuensi alpha-theta. Frekuensi alpha-theta ini normalnya kita alami ketika sedang rileks, melamun dan berimajinasi. Berbeda dengan kondisi beta yang dominan ketika kita dalam kondisi sadar sepenuhnya dan lebih banyak menggunakan akal pikiran.
Memasuki frekuensi alpha-theta itu sebenarnya merupakan ketrampilan manusia yang alami. Namun, ketika mulai sekolah, kita dikondisikan menyetel gelombang otak yang dominan beta. Jadi, begitu menjadi orang dewasa , keterampilan memasuki kondisi alpha-theta itu hilang.
Apalagi tuntutan kehidupan modern membuat pikiran orang terfokus untuk bekerja keras demi tuntutan materi dan kehidupan yang konsumtif meskipun terpaksa mengurangi waktu tidur dan istirahat. Padahal saat tidur manusia seharusnya merasakan keempat frekuensi. Dari frekuensi beta di mana kita dalam kesadaran penuh, gelombang otak turun ke alpha ketika kedua mata tertutup, lalu masuk ke theta, dan akhirnya ke delta saat kita tertidur pulas tanpa mimpi. Karena waktu tidur kurang, maka kita cenderung kurang mengalami kondisi alpha-theta, akibatnya kita makin mudah stres.
Alfa-Theta, membuat tenang, bahagia dan kreatif. Kemampuan untuk secara temporer mengubah kesadaran diri satu frekuensi ke frekuensi yang lain adalah keterampilan yang sangat penting, karena efeknya akan membantu menyeimbangkan otak, hati, dan jiwa. Keterampilan itu membuat seseorang menjadi pandai membaca situasi dan pandai menempatkan diri dalam suasana apapun sehingga seolah-olah sellau berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Tentunya hal itu sangat penting untuk mendaki tangga kesuksesan dan mencapai kebahagiaan.
Ketika masalah berdatangan dan mulai merasa stres, itulah saat yang tepat untuk mulai rileks,menurunkan vibrasi otak dan memasuki frekuensi alpha-theta. Begitu juga ketika pekerjaan kita membutuhkan pikiran-pikiran kreatif. Memasuki kedua frekuensi itu akan membantu memunculkan inspirasi yang kita butuhkan.
Menarik lagi, kedua frekuensi tersebut juga merupakan pintu gerbang menuju pikiran bawah sadar yang dibutuhkan untuk melakukan self hypnosis, mendapatkan intuisi dan melakukan penyembuhan. Masalahnya bagaimana caranya memasuki frekuensi alpha-theta dengan cepat?
Sebenarnya usaha untuk memasuki level alpha-theta secara sadar telah dilakukan orang sejak lama, yaitu dengan kebiasaan berdzikir yang membuat doa makin khusyuk, latihan-latihan meditasi, yoga, atau taichi.
Latihan-latihan itu bisa sangat membantu meningkatkan kemampuan kita untuk mengubah kesadaran otak. Para penyembuh yang menggunakan energi dan tenaga dalam, karena tuntutan pekerjaannya umumnya telah menuai ketrampilan ini secara otomatis.
Menurut Erbe Sentanu, selain cara-cara tersebut, otak juga bisa dilatih dengan teknologi audio yang disebutnya digital prayer. Teknologi berupa CD ini berisi bunyi-bunyian yang menimbulkan gelombang tertentu yang dengan mudah akan diterima otak.
Caranya yaitu dengan melakukan entertainment. Yaitu istilah yang digunakan untuk melatih belahan otak kiri dan otak kanan agar mau bekerja sama dengan baik. Otak dengan tingkat kerjasama yang tinggi, umumnya akan membuat orang melihat kehidupan dengan lebih objektif, tanpa ketakitan dan kecemasan.
Selain lebih mudah memasuki kondisi khusuk atau rileks yang dalam, juga memiliki kemampuan memfokuskan konsentrasi yang lebih baik. Selain itu karena kondisinya lebih sinkron dan seirama, otak akan mengeluarkan senyawa kimia penyebab rasa nyaman dan nikmat dalam jumlah besar sehingga terjadi relaksasi secara alami. Nampaknya mereka yang tidak terbiasa dengan latihan-latihan meditasi, yoga, tai chi, dan lainnya cara ini bisa membantu. (Tri Wahyuni)
Teh Hijau Bikin Mental Lebih Tenang dan Releks
25 Februari 2007
SINAR HARAPAN
Selama ini khasiat teh, khususnya teh hijau telah diekspos dan diyakini sebagai minuman yang sanggup mencegah kanker, gangguan jantung dan ginjal, serta kegemukan. Kehebatan itu lantaran aksi dari senyawa bioaktif polifenol yang dikandungnya. Sesungguhnya bukan itu saja, minuman ini juga dapat memperbaiki kondisi mental sehingga terasa lebih rileks dan nyaman. Komponen fungsional teh hijau yang bertanggung jawab atas terciptanya perasaan itu adalah L-teanin.
L-teanin merupakan asam amino unik yang memberikan rasa ‘eksotis’ yang enak (umami atau savory) dan hanya ditemukan pada tanaman teh dan jenis mushroom tertentu seperti Xerocomus badius. Senyawa ini biasanya berada dalam bentuk bebas (bukan protein) dan merupakan asam amino yang dominan di dalam teh, yaitu sebanyak 50 persen dari total asam amino bebas. Kadarnya pada daun teh mencapai 1-2 persen berat kering. Struktur kimia L-teanin atau ?-etilamino- asam L- glutamat dapat dilihat pada Gambar 1.
Bahan bioaktif ini secara alami disintesis dari asam glutamat (jenis asam amino yang biasa digunakan sebagai bumbu masak) dan etilamin di dalam akar , yang kemudian ditransfer ke daun-daun muda tanaman teh. Kini, untuk tujuan komersial pembuatan teanin telah dikembangkan melalui metode enzimatik. Aplikasinya telah digunakan pada produk pangan, misalnya, ditambahkan pada minuman, cookies, permen, es krim dan ice candies.
Bikin Rileks.
Pada umumnya, manusia dan binatang selalu menghasilkan suatu getaran (pulse) listrik yang sangat lemah pada permukaan otak, yang sering disebut sebagai gelombang otak (brain waves). Berdasarkan frekuensinya, gelombang tersebut dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu gelombang ? (0,5-3 Hz: kondisi mental tidur nyenyak), ? (4-7 Hz: tidur sejenak), ? (8-13 Hz: bangun, relaksasi), dan ? (Ž 14 Hz: bangun, eksitasi). Telah diketahui pula, bahwa gelombang otak ? dihasilkan selama keadaan rileks. Oleh karenanya generasi gelombang ? dinyatakan sebagai indeks relaksasi.
Juneja dkk (1999) telah mengukur gelombang otak para wanita yang telah diberi asupan teanin sekali seminggu sebanyak 200 mg (dalam 100 ml) selama dua bulan. Hasilnya, gelombang otak mereka didominasi jenis ?, sementara yang minum air saja (kontrol) menunjukkan hanya sejumlah kecil gelombang tersebut. Tampak jelas pula intensitas akumulasi gelombang ? ini setelah 30 menit mengonsumsi teanin. Generasi gelombang jenis ini mengindikasikan keadaan responden merasa rileks.
Teanin memang tergolong senyawa yang mudah diabsorbsi di saluran intestinal (usus) , yang selanjutnya mengalir sampai otak. Di sinilah teanin akan berinteraksi dengan neurotransmiter sehingga memberikan efek terhadap emosi atau keadaan mental seseorang. Konsentrasi neurotransmiter dopamin meningkat secara signifikan setelah menerima asupan teanin. Hasil pengamatan Yokogoshi dkk (1998) dari Universitas Shizuoka, Jepang juga menunjukkan bahwa pemberian teanin ke dalam striatum otak melalui mikroinjeksi menyebabkan peningkatan pelepasan dopamin. Pelepasan neurotransmiter ini akan memberikan perasaan senang dan memperbaiki suasana hati (mood).
Menurunkan tekanan darah
Pengaturan tekanan darah telah diketahui berkaitan erat dengan neuron katekolaminergik dan serotonegik di dalam sistem saraf otak dan peripheral (tepi). Karena teanin dapat menurunkan neurotransmitter serotonin, maka substansi ini juga dipercaya dapat menurunkan tekanan darah. Penelitian yang dilakukan Yokogoshi dkk (1995) menunjukkan bahwa pemberian teanin melalui injeksi intraperitoneal pada tikus hipertensif, secara nyata menurunkan tekanan darahnya atau dapat bersifat antihipertensif. Sementara, pemberian dengan glutamat yang struktur kimianya serupa teanin, tidak memberikan aksi antihipertensif. Boleh jadi atas kemampuannya inilah, teanin mempunyai efek yang lembut (calm) terhadap keadaan mental atau emosi.
Sebagaimana dikemukakan di atas, pemberian asupan teanin memiliki efek yang signifikan terhadap pelepasan dopamin dan penurunan serotonin. Diketahui pula, kedua neurotransmiter sangat berhubungan dengan kemampuan mengingat (daya memori) dan belajar (learning). Oleh karena itu, sebagian peneliti berkeyakinan bahwa teanin juga dapat memperbaiki kemampuan tersebut pada manusia. Hal ini didukung oleh hasil pengamatan pada hewan coba yang menunjukkan terdapat efek yang positif terhadap kemampuan kognitif tersebut.
Jadi, minum teh hijau di pagi hari sehabis bangun pagi atau pulang kerja, saat menerima tamu, chatting dengan teman atau tea break saat istirahat sehabis seminar atau rapat, merupakan kebiasaan yang baik lantaran aksi L-teaninnya dapat menurunkan stress/ketegangan dan memberikan perasaan lebih rileks dan tenang.
(Wisnu Adi Yulianto/Dosen FTP Universitas Wangsa Manggala Yogyakarta)
Copyright © Sinar Harapan 2003
Pasien Skizofrenia Tak memiliki Gelombang Gama
25 Februari 2007
SINAR HARAPAN --
LONDON – Ilmuwan baru saja menemukan kegagalan gelombang otak yang bisa menjelaskan mengapa seseorang menderita gejala skizofrenia. Sebuah titik cerah dalam dunia neurologi.
Penyakit skizofrenia memang masih kurang populer di kalangan masyarakat awam. Tapi gangguan kejiwaan ini sudah mulai mencemaskan sebab hingga saat ini masih belum ditemukan terapi yang cukup manjur untuk menyembuhkannya. Ada kabar baik dari Inggris. Ahli neurologi dari negeri tersebut baru saja menemukan pemicu dari munculnya gejala skizofrenia.
Pada para penderita skizofrenia diketahui bahwa sel-sel dalam otak yang berfungsi sebagai penukar informasi mengenai lingkungan dan bentuk impresi mental jauh lebih tidak aktif dibanding orang normal. Temuan ini bisa menjabarkan dan membantu pengobatan munculnya halunisasi dan gangguan pemikiran pasien skizofrenia, demikian menurut tim dari Harvard Medical School.
Studi yang muncul pada jurnal terbaru Proceedings of the National Academy of Sciences ini didasarkan atas analisis terhadap pola gelombang 20 orang penderita skizofrenia dan 20 orang sukarelawan sehat. Para partisipan tersebut ditanyai mengenai dua gambar yang mengandung empat figur Pacman, yakni lingkaran dengan bagian yang seperempatnya hilang. Pada satu gambar empat bentuk disusun secara optis menyerupai lingkaran di tengah. Para partisipan ditanyai dengan menjawab cukup menekan tombol apakah mereka melihat lingkaran atau tidak.
Gelombang Gama
Pada saat yang sama para ilmuwan memonitor gelombang otak partisipan dengan menggunakan electroencephalogram (EEG) yang bisa memberi informasi aktivitas elektrik otak. Kedua kelompok memberi respons terhadap gambar-gambar tersebut selama satu detik saja. Namun mereka yang menderita skizofrenia membuat lebih banyak kesalahan dan membutuhkan waktu lebih banyak 200 milidetik dibanding yang sehat.
Ketika para ilmuwan mengamati pola gelombang otak, mereka menemukan bahwa pasien skizofrenia memperlihatkan tidak adanya aktivitas pasti dalam gelombang otaknya ketika menekan tombol-tombol jawaban. Sementara partisipan yang sehat memiliki aktivitas gelombang gama yang bisa menjadi identifikasi bahwa otak mereka memproses informasi visual sebagai petunjuk responsnya. ”Ada perbedaan yang sangat dramatis. Para penderita skizofrenia tidak memperlihatkan respons gama sama sekali,” komentar Dr. Robert McCarley si pemimpin studi seperti yang dikutip BBC News Online baru-baru ini.
Jika komunikasi yang paling efisien terjadi pada gelombang 40 hertz, maka penderita skizofrenia menggunakan frekuensi yang jauh lebih rendah. Ini sama saja artinya dengan mereka tidak mempunyai proses komunikasi yang efektif pada sel penukar informasi dan bagian otaknya. Sebagai perbandingan, gelombang delta pada otak bekerja di bawah frekuensi 4 herts ketika manusia tidur. Gelombang alpha antara 8-13 hertz saat manusia dalam kondisi santai. Gelombang beta antara 13-30 hertz pada saat kita berpikir aktif. Dan gelombang gama antara 30-100 hertz saat kita melakukan aktivitas mental yang berat.
Dengan temuan ini maka kemungkinan obat yang bisa memicu respons gelombang gama bisa menolong pasien skizofrenia. ”Apabila kita mengetahui ciri kimia otak yang bisa mengenali kegiatan neuron yang terkait dalam produksi aktivitas gama, maka kita bisa mencoba target pengobatan berikutnya,” lanjut McCarley.
Halunisasi
Marjorie Wallace, pimpinan eksekutif yayasan skizofrenia SANE, London, berkomenrar bahwa studi ini bisa membawa harapan baru bagi sekian banyak penderita skizofrenia di dunia. Studi terbaru ini agaknya nyaris sepakat dengan buku The Broken Brain: The Biological Revolution in Psychiatry yang ditulis oleh Dr. Nancy Andreasen. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa bukti-bukti terkini tentang serangan skizofrenia merupakan suatu hal yang melibatkan banyak sekali faktor. Faktor-faktor itu meliputi perubahan struktur fisik otak, perubahan struktur kimia otak, dan faktor genetik.
Di dalam otak terdapat miliaran sambungan sel. Setiap sambungan sel menjadi tempat untuk meneruskan maupun menerima pesan dari sambungan sel yang lain. Sambungan sel tersebut melepaskan zat kimia yang disebut neurotransmitters yang membawa pesan dari ujung sambungan sel yang satu ke ujung sambungan sel yang lain. Di dalam otak penderita skizofrenia, terdapat kesalahan atau kerusakan pada sistem komunikasi tersebut.
Ada sejumlah gejala di mana seseorang mengidap skizofrenia, penyakit yang kadang tak dikenali oleh awam. Biasanya mereka mengalami halunisasi. Halusinasi selalu terjadi saat rangsangan terlalu kuat dan otak tidak mampu menginterpretasikan dan merespons pesan atau rangsangan yang datang. Penderita skizofrenia mungkin mendengar suara-suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, atau mengalami suatu sensasi yang tidak biasa pada tubuhnya. Auditory hallucinations, gejala yang biasanya timbul, yaitu penderita merasakan ada suara dari dalam dirinya. Kadang suara itu dirasakan menyejukkan hati, memberi kedamaian, tapi kadang suara itu menyuruhnya melakukan sesuatu yang sangat berbahaya, seperti bunuh diri.
Gejala lain adalah menyesatkan pikiran alias delusi, yakni kepercayaan yang kuat dalam menginterpretasikan sesuatu yang kadang berlawanan dengan kenyataan. Misalnya, pada penderita skizofrenia, lampu lalu lintas di jalan raya yang berwarna merah kuning hijau, dianggap sebagai suatu isyarat dari luar angkasa. Beberapa penderita skizofrenia berubah menjadi seorang paranoid. Mereka selalu merasa sedang diamat-amati, diintai, atau hendak diserang.
Kegagalan berpikir mengarah kepada masalah di mana penderita skizofrenia tidak mampu memproses dan mengatur pikirannya. Kebanyakan penderita tidak mampu memahami hubungan antara kenyataan dan logika. Karena penderita skizofrenia tidak mampu mengatur pikirannya membuat mereka berbicara secara serampangan dan tidak bisa ditangkap secara logika. Ketidakmampuan dalam berpikir mengakibatkan ketidakmampuan mengendalikan emosi dan perasaan. Hasilnya, kadang penderita skizofrenia tertawa sendiri atau berbicara sendiri dengan keras tanpa mempedulikan sekelilingnya.
(SH/merry magdalena)
Copyright © Sinar Harapan 2003
INSOMNIA dan Rahasia Tidur Nyaman
25 Februari 2007
Otak dan otot saling merangsang -------
------------------------------
Gangguan insomnia menunjukkan betapa aktivitas tidur itu penting. Sebab, "Semua orang memang perlu tidur (di malam hari) sesuai kebutuhan," komentar Joyse Walsleben, Ph.D., psikolog asal AS. "Kalau tidak, otak akan menyuruh kita tidur di siang hari."
Normalnya, seorang dewasa membutuhkan waktu tidur 7 - 8 jam semalam. Para lansia sering kurang dari itu. Tidak heran, kurang tidur dalam semalam saja terasa kurang segar, apalagi selama sebulan seperti dialami Rina.
Dengan tidur sebenarnya sesorang melakukan pembersihan diri dari "sampah penyebab kelelahan". Mengutip penelitian para ahli kimia, dr. P. Carbone dari AS mengungkapkan, dalam sehari produk "sampah" yang berasal dari seluruh kegiatan otot tubuh - sebagian besar terdiri atas dioksida dan asam laktat - menumpuk dalam darah dan mempunyai efek toksik pada saraf, menyebabkan rasa lelah dan mengantuk. Selama tidur "sampah" ini dimusnahkan, sehingga saat bangun tubuh terasa segar. Namun puncak rasa segar, menurut para ahli tadi, baru dirasakan dua jam sesudahnya.
Dr. Roan menambahkan, rasa kantuk berkaitan erat dengan hipotalamus dalam otak. Dalam keadaan badan segar dan normal, hipotalamus ini bekerja baik sehingga mampu memberi respons normal terhadap perubahan tubuh maupun lingkungannya. Namun, setelah badan lelah usai bekerja keras seharian, ditambah jam rutin tidur serta sesuatu yang bersifat menenangkan di sekelilingnya, seperti suara burung berkicau, angin semilir, kasur dan bantal empuk, udara nyaman, dll., kemampuan merespons tadi berkurang sehingga menyebabkan seseorang mengantuk.
Sebenarnya tidur tidak sekadar mengistirahatkan tubuh, tapi juga mengistirahatkan otak, khususnya serebral korteks, yakni bagian otak terpenting atau fungsi mental tertinggi, yang digunakan untuk mengingat, memvisualkan serta membayangkan, menilai dan memberikan alasan sesuatu.
Tes yang pernah dilakukan terhadap beberapa ratus pria yang bersedia menjadi sukarelawan untuk tidak tidur selama berhari-hari menunjukkan, setelah 4 - 8 hari, memang tidak terjadi kemerosotan fisik yang berarti. Namun dalam 24 jam saja tidak tidur, gejala gangguan mental serius sudah terlihat, seperti cepat marah, memori hilang, timbul halusinasi, ilusi, dll. Meski begitu, dengan tidur kembali keesokan harinya semua gangguan itu hilang. Malah ada ahli menyatakan, mendingan orang tidak makan dan minum daripada tidak tidur. Tes laboratorium pada hewan menunjukkan, mereka bisa bertahan hidup tanpa makan dan minum sampai 20 hari, tapi tidak tidur hanya bertahan tidak lebih dari lima hari.
Sejumlah ahli yang memonitor aktivitas tubuh menuju tidur menambahkan, saat tidur pikiran dan otot-otot kita saling merangsang. Ketegangan otot menyebabkan korteks terus aktif sedangkan ketegangan otak menyebabkan otot terus aktif. Kelelahan akan mengurangi irama kerja otot, demikian juga di kala beristirahat, sehingga semua ini akan menurunkan kegiatan dalam korteks.
Menurunnya aktivitas dalam korteks akan membiarkan otot-otot kita semakin rileks. Begitu rangsangan antara pikiran dan otot menurun, kita akan mengantuk lalu tertidur. Selagi tidur, jantung kita akan berdetak lebih lamban, tekanan darah menurun, dan pembuluh-pembuluh darah melebar. Suhu badan turun sekitar 0,5oF (… ? oC) tetapi perut dan usus tetap bekerja. Sementara tidur, tubuh sekali-kali bergerak. Gerakan sebanyak 20 - 40 kali masih dianggap normal. Terganggu insomnia berarti kerja pikiran dan otot tidak berjalan seiring. Pikiran kita akan sulit tertidur bila otot masih tegang. Sebaliknya, akan sulit bagi otot untuk tertidur jika pikiran masih terjaga, tegang, dsb.
Menurut Roan, dikatakan sehat dan normal bila begitu naik ke atas tempat tidur dengan tatanan rapi, bantal enak dan empuk, kurang lebih selang 30 menit sudah tertidur, bahkan ada orang begitu mencium bantal dalam 3 - 5 menit langsung tertidur.
Gerak bola mata cepat
"Tidur itu ada stadiumnya, tidur dangkal dan tidur dalam," kata Roan. Saat mulai tertidur hingga sekitar 1 - 1,5 jam kemudian, stadium tidur dangkal berubah menjadi dalam. Saat mencapai tidur dangkal kedua kalinya, bola mata tampak bergerak cepat (rapid eye movement sleep = REM Sleep). Ini berlangsung selama 15 - 20 menit, kemudian masuk lagi ke stadium tidur yang lebih dalam. Setelah lewat 1 - 2 jam, timbul kembali tidur REM tahap 2, yang berlangsung 15 - 20 menit. Selama 7 - 8 jam tidur bisa 4 - 5 kali tidur REM.
Tidur REM beberapa kali harus terjadi selama tidur. Kalau tidak, tidur berikutnya akan kacau. Seandainya selama dua minggu selalu terbangun atau dibangunkan dalam stadium tidur REM, dua minggu berikutnya badan menuntut tidur REM lebih banyak atau sering mengantuk. Kalau dalam keadaan normal tidur REM hanya 25% dari seluruh tujuh jam tidur, bila selama dua minggu terganggu, membutuhkan sampai 65%. Tidur REM ini memberikan ciri beberapa gangguan jiwa tertentu. Seseorang yang depresi, tidur REM yang 4 - 5 kali selama 7 jam, bergeser lebih dekat dengan awal tidur. Pada lansia, tidur REM bergeser dekat pagi hari.
Saat tidur terjadi pula perubahan gelombang listrik otak. Kalau dalam keadaan siaga (melek), frekuensi gelombang otaknya tinggi. Dalam keadaan istirahat dan memejamkan mata, otak mengeluarkan gelombang alfa dengan frekuensi 8 - 13 Hz. Menuju stadium tidur lebih dalam, gelombang otak akan memperlambat diri, menjadi 3-7 Hz. Gelombang ini disebut gelombang theta. Selanjutnya, bila tidur sangat dalam, timbul gelombang delta, 1 - 4 Hz. Menurut beberapa peneliti, semakin banyak gelombang kecil per detiknya, semakin lelap dan tenang tidur seseorang. Di kalangan penggemar meditasi, gelombang delta justru dicari karena membawa ketenangan sangat tinggi. Bila terjadi sebaliknya, tidur akan kurang lelap.
Betapapun masalah yang dihadapi seseorang, usahakan untuk mengatasinya sendiri tanpa bantuan obat. Misalnya, untuk membantu mengusir pemicu stres, ambillah selembar kertas, tuliskan masalahnya sebelum naik ke tempat tidur. Kalau Anda membawa pekerjaan kantor ke rumah, singkirkan pekerjaan beberapa jam sebelum jam tidur. Kalau masalah belum teratasi, tenangkan pikiran, bawalah tidur masalah Anda. Keesokan harinya, di kala pikiran lebih terang dan tubuh lebih segar, masalah akan lebih mudah teratasi. Percayalah! (Nanny Selamihardja)
Tingkatkan Kreatifitas Anda Melalui Terapi Gelombang Otak
25 Februari 2007
Otak normalnya beroperasi pada frekuensi yang berbeda-beda, tergantung kepada aktifitas yang sedang kita kerjakan. Frekuensi ini dibagi kedalam 4 kelompok gelombang otak:
Ø Gelombang Beta (13-40 Hz) berhubungan dengan konsenstrasi penuh
Ø Gelombang Alpha (7-12 Hz) berhubungan dengan relaksasi dan gerbang awal kreatifitas
Ø Gelombang Theta (4-7 Hz) berhubungan dengan twilight state yang biasanya kita alami pada saat kita hampir tertidur dan berhubungan juga intuisi dan kreatifitas.
Ø Gelombang Delta (0-4 Hz) berhubungan dengan tidur lelap.
Saat kita memperlambat pola gelombang otak dari beta menuju alpha kemudian theta lalu delta, terjadi peningkatan keseimbangan atau sinkronisasi antara kedua belahan otak. Ilmuwan memperhatikan bahwa pola gelombang otak yang lebih lambat ini berkaitan dengan intuisi, pemikiran kreatif, euforia, fokus yang tajam, dan peningkatan kemampuan belajar.
Klik di Sini...
Pesan Sekarang Juga!
|
|